cerpen Torehan Pena Mungil

Table of Contents
Sumber: pxhere.com



Torehan Pena Mungil

(Sebuah Cerpen)

Oleh : M. Salafudin A.


Dengan muka pucat pasi & dinginnya udara menyelimut. Hanafi berlindung di antara bebatuan tua. Berbekal peci hitam, sarung kotak-kotak, dan sebuah bolpoin kecil kesayangannya , ia menunggu hujan reda. Percikan hujan menggema di bagian belakang gua yang bolong atapnya. Gelegar halilintar yang turut menyambar di antara jatuhnya rahmat Allah yang memberi kehidupan, mengageti hanafi "Oga..."  secuplik nama seseorang terucap oleh hanafi berteriak, terkejut .
"Aduh... perutku sepertinya bergemuruh,  ini sudah hampir petang, apakah aku harus pulang ....., ah tidak, paling bentar lagi hujan reda , kalau aku hujan hujanan bisa sakit aku.. ,tak apa lah akan ku tunggu "
Ia sudah begitu lama menunggu, tapi hujan pun belum reda. hingga hanafi tertidur di dalam gua itu dengan sangat nyenyak. hingga  terbangun & sangat terkejut saat melihat langit yang gelap & lihat jam tangannya menunjukkan waktu pukul 22.30. Terdengar suara desisan  juga suara langkah kaki manusia mendekat. kaki hanafi bergetar.  Dia bergegas meninggalkan tempat itu. langkahnya amat tergesa gesa. berlarian menjauhi gua itu & menuju desanya, tapi entah mengapa perasaan dia ada yang kurang.
" Dari mana kau, han..?, tengah malam kaluyuran " tegur pak hansip desa
Tidak ada satupun reaksi yang di berikan setelah teguran itu di lontarkan padanya .
"Waduuh ( dengan nada terkejut ), kau tertinggal ,tak kan ku biarkan kau hilang, aku akan kembali "
"Eh eh mau kemana lagi kau, dasar anak muda jaman now"
Hingga saat hanafi berdiri di depan gua itu , kakiknnya bergoyang, rasa takut kembali menghampirinya" tidak apa-apa ,tidak apa-apa ".
Dan disaat sudah menyadari ia telah berada tepat di tempatnya beristirahat. Ia hanya melihat gundukan- gundukan stalaktit dan stalakmit yang tadinya tidak ada. Dinding gua itu juga terbagi dua lorong entah kemana arahnya. Rasa penasaranpun muncul dalam benaknya.
"Apa betul ini gua yang tadi? , tapi tadinya semua ini ndak ada. aku malah jadi penasaran "
Matanya tertuju ke penjuru gua. Dan di saat ia melihat ke bawah .
" nah itu dia , akhirnya... Kau kembali , takkan aku biarkan satu satunya kenangan ini hanyut tak tersisa "
Tangannya langsung meraih bolpoin yang ia cari ,tapi seperti agak aneh dengan bolpoin itu karena penuh dengan lendir dan berbau busuk sehingga bolpoin itu mati ,bolpoin itu adalah sebuah bolpoin yang biasa saja tetapi bagi hanafi memiliki kenangan luar biasa ,lebih lebih jika ia memberikan coretan kecil di lukisannya maka ia akan terbawa hembusan rindu pada yoga yang memiliki bolpoin itu yang di pinjamkannya pada hanafi tepat 1 hari sebelum yoga pergi, benda mungil itu selalu hanafi selipkan pada saku pakaian sehari harinya. yoga  menghilang setelah tragedi yang ia alami karena ulah kecemburuan hanafi, saat satu tahun yang lalu ketika masih duduk di bangku kelas 11.






" dari mana saja kau, dari siang sampai tengah malam baru pulang, keluyuran terus "
"Maaf bu ,aku ketiduran di gua kampung sebelah, nunggu hujan berhenti "
" Alasan! , hujan reda saat magrib "
" iya bu aku minta maaf, nggak enak sama tetangga ,malam malam ada keributan, aku menunggu hujan reda di gua itu, tapi malah ketiduran sampai malam, jadinya aku baru pulang , sudah ya bu aku belum sholat "
"emh.. Baiklah... ibu percaya, nanti sebelum tidur makan dulu "
"Ya bu"
Gelisah pada malam saat akan tidurnya. terbayang bayang tak menentu melayang tidak karuan. dan di dalam angan terselip secuil cerita hanafi yang masih menempati kelas 11 dan yoga pun masih ada bersamanya, mereka sangat akrab. rangking kelas tak pernah tertinggal dalam nilai mereka. mereka selalu bersaing tanpa ada persaingan hitam. persahabatan mereka tampak asri melengkapi, Lukisan-lukisan banyak tersaji di meja rumah hanafi dan yoga yang menorehkan kata mutiata yang puitis di karya hanafi, karya mereka terlalu bagus jika di satukan, karya mereka pun telah beberapa kali lolos seleksi dan di muat di media koran tapi tidak sesering yoga,lambat laun tanpa mereka sadari jalinan persahabatannya mulai merapuh ketika seorang gadis ,teman sekelas memberikan perhatian lebih kepada yoga, dan tampaknya  perhatian yogapun pekan itu beralih tertuju pada dia ketimbang sahabat karibnya sendiri , tapi hanafi juga memendam rasa suka padanya jauh sebelum yoga di dekatinya, setelah sekian lama yoga semakin dekat dengan dia dan mereka akhirnya jadian tepat di depan hanafi  , hanafi tidak tahu kalau akan ada tragedi pahit ini, hanafi setelah kejadian itu tampak menjauh dari yoga selebih lagi karya-karya hanafi kalah saing dari yoga yang sebagian besar karyanya lolos terbitan dan laku keras bahkan ke mancanegara. Suatu hari hanafi mangajak yoga ke sebuah tempat,  tanpa seorangpun yang tahu kemana mereka pergi termasuk yoga, hanafi langsung terbangun dari posisi terbaringnya , mukanya muram, berteriak tertahan" yoga... " sepasang bola mata hanafi melotot berkabut meneteskan air mata.
" mungkinkah kau masih hidup, sahabatku....., maafkan aku maafkan diriku, begitu bodohnya aku....".


Keesokan harinya hanafi bergegas kembali ke gua tempat ia ketiduran semalam ,tapi entah dimana keberadaannya lagi lagi hal aneh yang tak pernah di jumpainya hadir, disitu hanya tampak rumput liar tinggi semampai dan pohon-pohon besar menjulang, hanya terlihat hutan biasa tanpa ada satupun tanda keberadaan gua, dan ternyata di balik rerumputan dan semak semak itu gua yang ia cari terlihat  tapi tanah di sekitarnya menutupi mulut gua yang seperti amblas ke tanah ,hanafi terheran heran dengan apa yang ia lihat, pelan pelan hanafi melangkah masuk ke dalam dan pemandangannya tampak sama seperti kemarin, ketika  bertemu dua lorong ,  hanafi kebingungan , dengan penuh keyakinan ia melangkah ke arah kanan menelusuri tiap celah gua itu ,dan di situ tercecer darah sepanjang lorong, hanafi mulai khawatir, ada dua lorong lagi tapi hanafi hanya yakin dengan jejak merah itu, hingga di penghujung gua di atas batu besar terlihat sepucuk kertas, seketika hanafi menangis tersedu sedu membaca isi tulisan itu.
" han.., ku tengah tak sadar saat itu bila engkaulah pahlawan hidupku, tapi malah ku torehkan rasa cintaku padanya, aku tak sadar bila segitiga cinta melanda kita, Maafkan aku han ,maafkan...., Memang Penyesalan datang belakangan, aku menyesal, hanya karena seseorang, engkau sahabat dekatku ku tinggalkan , kini Aku sudah tidak akan mengganggu dirimu lagi hanafi, Maafkan aku han ,maafkan.... ,Maafkan aku hanafi" ungkap yoga dalam surat itu.
" ( hanafi teriakan rasa sedihnya ) yoga....., aku yang salah, kau tidak bersalah,  aku dulu mengajakmu ketempat itu dan kau.... ( air matanya menetes, bibirnya tak sanggup berkata pada dirinya sendiri)... Ternyata kau dulu masih hidup dan pergi ke sini yoga... , maafkan ku yog...  persahabatan kita telah ku nodai hanya karena egoku"
hanafi teringat kejadian lampau saat berada di hutan berdua dengan yoga, hanafi melampiaskan emosinya , yoga bersimbah darah hingga tak sadarkan diri dan di tinggalkan nya sendiri ,dan di tengah perjalanan hanafi sadar bahwa perbuatannya tidak benar, lalu iapun kembali ke tempat kejadian tapi yoga sudah tidak ada di situ , hanafipun sangat terkejut dan tersimpuh di tempat yoga berada , masih tersisa bekas darahnya di tempat itu.

Jepara, 9 Januari 2017
Ranting Tulakan V
Ranting Tulakan V Belajar, berjuang, serta bertaqwa.